Fenomena Murid Baru Menyusut, SDN 2 Cepokosawit Boyolali Sambut Satu Peserta Didik Tahun Ini
SDN 2 Cepokosawit di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, hanya menerima satu peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Meski dikenal sebagai sekolah berprestasi dan menyandang predikat Adiwiyata

Indo Green - Fenomena berkurangnya jumlah peserta didik di sekolah dasar negeri kembali terjadi di Jawa Tengah. Kali ini, kondisi tersebut dialami SDN 2 Cepokosawit yang berada di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah yang selama ini dikenal memiliki berbagai prestasi akademik maupun nonakademik itu hanya menerima satu peserta didik baru. Meski demikian, pihak sekolah memastikan kondisi tersebut tidak akan memengaruhi kualitas pelayanan maupun proses pembelajaran yang akan diterima siswa.
Minimnya jumlah murid baru menjadi tantangan tersendiri bagi SDN 2 Cepokosawit. Selama ini sekolah tersebut dikenal sebagai salah satu sekolah dasar yang memiliki reputasi baik di wilayah Kecamatan Sawit. Selain menyandang predikat Sekolah Adiwiyata, sekolah ini juga berhasil mencatatkan berbagai capaian membanggakan, baik di bidang akademik maupun pengembangan bakat siswa. Pada hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA), misalnya, sekolah ini memperoleh nilai 93 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan nilai 83 untuk Matematika. Belum lama ini, para siswanya juga berhasil meraih prestasi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Di tengah berbagai pencapaian tersebut, jumlah peserta didik baru justru terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada tahun ajaran sebelumnya sekolah masih menerima enam murid baru, tahun ini hanya satu anak yang mendaftar dan resmi menjadi siswa kelas I. Kondisi itu menjadi pengalaman pertama bagi SDN 2 Cepokosawit sejak sekolah tersebut berdiri.
Dikansir dari Kompas.com, Kepala SDN 2 Cepokosawit, Arya Dani R, mengatakan pihak sekolah tetap bersyukur meskipun hanya mendapatkan satu murid baru pada tahun ajaran ini. Menurutnya, jumlah siswa bukan menjadi alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
"Alhamdulillah tetap kami syukuri walaupun mendapatkan satu murid akan tetap kami layani dengan sepenuh hati," kata Arya saat ditemui di SDN 2 Cepokosawit, Boyolali, Selasa (14/7/2026).
Arya menjelaskan, penurunan jumlah murid baru sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan sekolah untuk menarik minat masyarakat, mulai dari melakukan sosialisasi kepada warga hingga melibatkan tokoh masyarakat di sekitar lingkungan sekolah. Namun, upaya tersebut belum mampu meningkatkan jumlah pendaftar secara signifikan.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan jumlah peserta didik baru terus berkurang. Salah satunya adalah angka kelahiran di wilayah Cepokosawit yang memang relatif rendah sehingga jumlah anak usia sekolah dasar setiap tahun semakin sedikit. Di sisi lain, lokasi SDN 2 Cepokosawit juga berdekatan dengan sejumlah sekolah lain, baik sekolah negeri maupun swasta. Kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan tempat pendidikan bagi anak-anak mereka.
"Jarak dengan SD lain dekat. Seperti SD Kemasan itu kurang lebih satu kilo. Kemudian dengan SD 2 Kemasan juga dekat dan dengan SD-SD swasta juga dekat," ujar Arya.
Meski hanya memiliki satu peserta didik baru, aktivitas pembelajaran di sekolah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Guru kelas I, Andriyani Mudrikah, memastikan seluruh materi pelajaran akan diberikan secara utuh sesuai kurikulum yang berlaku. Satu-satunya murid baru yang bernama Khanza juga akan memperoleh perhatian dan pendampingan yang sama seperti siswa lainnya.
"Insyaallah tetap kami layani sebaik-baiknya karena orang tua sudah menitipkan ke sekolah kami," ungkap Andriyani.
Kondisi yang dialami SDN 2 Cepokosawit menjadi gambaran bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran, tetapi juga perubahan kondisi demografi masyarakat. Penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir mulai berdampak terhadap jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar, terutama di daerah yang memiliki banyak lembaga pendidikan dengan lokasi berdekatan.
BACA JUGA: Warga Patungan Rp1 Miliar, Jembatan Nasional yang Putus Akhirnya Berdiri Lagi
Fenomena sekolah negeri yang kekurangan murid sebenarnya bukan hanya terjadi di Boyolali. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di Jawa Tengah juga menghadapi persoalan serupa. Beberapa sekolah dasar di Kabupaten Blora bahkan sempat tidak memperoleh murid baru sama sekali pada awal tahun ajaran, sementara di Kabupaten Temanggung terdapat puluhan SD negeri yang mengalami penurunan jumlah siswa hingga pemerintah daerah menyiapkan opsi regrouping atau penggabungan sekolah.
Para pemerhati pendidikan menilai kondisi tersebut merupakan dampak dari kombinasi beberapa faktor, mulai dari penurunan angka kelahiran, perpindahan penduduk ke kawasan perkotaan, hingga semakin banyaknya pilihan sekolah swasta yang menawarkan berbagai program unggulan. Akibatnya, persaingan antar sekolah dasar dalam memperoleh peserta didik baru semakin ketat, terutama di wilayah yang memiliki jumlah sekolah cukup banyak dalam radius yang berdekatan.
Meski demikian, kondisi ini juga menghadirkan sisi positif bagi proses pembelajaran. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, guru memiliki kesempatan memberikan perhatian yang lebih intensif kepada setiap peserta didik. Pendekatan pembelajaran dapat berlangsung lebih personal sehingga perkembangan akademik maupun karakter siswa dapat dipantau secara lebih mendalam. Namun, di sisi lain, sekolah tetap harus menghadapi tantangan efisiensi operasional karena biaya penyelenggaraan pendidikan tidak sepenuhnya berkurang meskipun jumlah peserta didik menurun.
Bagi SDN 2 Cepokosawit, keberadaan satu peserta didik baru tidak mengurangi semangat sekolah untuk mempertahankan kualitas pendidikan yang selama ini telah dibangun. Rekam jejak prestasi yang dimiliki menjadi modal penting untuk terus menjaga kepercayaan masyarakat. Di tengah perubahan demografi yang memengaruhi jumlah anak usia sekolah, komitmen guru dan tenaga pendidik untuk tetap memberikan layanan terbaik menjadi pesan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya jumlah siswa di dalam kelas, melainkan oleh kesungguhan sekolah dalam mendampingi setiap anak agar berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
BACA JUGA: Petugas Diduga Razia Pajak Kendaraan di SPBU, Pengendara Diminta Tunjukkan Dokumen
Apakah Anda menyukai artikel ini?
Berikan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme independen dan artikel berkualitas.
Ditulis oleh
Romadhon Al Fikr
Jurnalis & kontributor Indo Green